Perkembangan Teknologi Rukyat AlHilal

Kenapa Muhammadiyah Kerap Lebaran Duluan Ini Alasannya Telisik Id
Kenapa Muhammadiyah Kerap Lebaran Duluan Ini Alasannya Telisik Id

Saat kita memasuki abad ke-21, kita memasuki era di mana informasi sangat kaya dan dapat diakses dari mana saja dan untuk semua orang. Tentu saja ilmu pengetahuan berkembang dengan lambat, maka banyak sekali teknologi canggih yang akan diciptakan untuk memudahkan segala tindakan manusia dan mempercepat pekerjaan manusia.

Salah satu perkembangan teknologi yang memudahkan umat Islam adalah teknik penentuan awal Ramadhan dan awal Syawal. Diskusi tentang awal Ramadhan tidak akan pernah ada habisnya. Sebenarnya Al-Qur'an tidak menjelaskan secara pasti bagaimana menentukan awal Ramadhan, Syawal, dan Haji, tetapi Al-Qur'an memuat beberapa ayat yang memberikan informasi untuk kita semua.

Salah satu metode yang digunakan adalah bulan sabit (melihat bulan). Allah SWT dan Rasul-Nya memerintahkan bahwa puasa adalah ibadah yang bergantung pada siklus bulan. Syariat ini lahir pada tahun kedua Hijriah, pada saat masyarakat Arab dan sekitarnya berada dalam kondisi tidak mampu membaca, menulis, dan berhitung (perhitungan astrologi). Nabi, semoga Allah memberkati dia dan memberinya kedamaian, mengatakan:

"Sesungguhnya kami adalah umat Umma. Kami tidak mengetahui kitab-kitab (kitab-kitab suci) maupun catatan-catatan. Bulan itu seperti (yaitu angka 29) dan semacamnya (yaitu angka 30). (HR Bukhari dan Muslim).

Oleh karena itu, cukup beralasan jika dalam hal ini cara yang dijelaskan untuk mengetahui waktu puasa adalah dengan melihat bulan, karena cara ini dianggap cara yang paling mudah untuk semua orang, dulu dan sekarang, sekuler atau budaya, pedesaan. . . atau hadir.

Nabi, semoga Allah dan saw, memerintahkan dalam banyak sabdanya untuk melihat bulan, dan di antara sabdanya:

“Berpuasalah ketika kamu melihat hilal dan ketika kamu melihat Idul Fitri.” Bukhori dan Muslim.

See also  Kemampuan Dokter Indonesia Manfaatkan Teknologi Medis Masih Rendah Republika Online

“Sebaliknya, lihatlah hilal dan berbukalah dengan melihatnya juga. Tetapi jika ada awan yang menutupinya, selesaikan hitungannya dan jangan menyapa hilal.” (HR. Al-Nasa'i dan Al-Hakim).

Meskipun metode Rayat al-Hilal dalam pelaksanaannya pada kenyataannya, perbedaan jumlah orang yang melihatnya sedikit. Beberapa berpendapat bahwa seseorang dapat memperoleh kesaksian dari orang baik yang melihat bulan. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar.

“Orang-orang mencoba untuk melihat bulan, jadi saya pergi ke Nabi dan mengatakan kepadanya bahwa saya melihat bulan, jadi dia menjadi Rasul Allah, damai dan berkah besertanya, dan memerintahkan umat Islam untuk berpuasa.” (Transmisi Abu Daud)

Sebagian ulama berpendapat bahwa dalil untuk mengamati bulan harus datang dari orang-orang Muslim yang saleh, setelah melonjak dengan bukti dalam kasus lain, serta pada kisah Hussein bin Haris bahwa Al-Harasat bin Al-Khatib adalah Amir negara. Mekah. Dia berkata. :

Lihat informasi digital lainnya

Tinggalkan komentar

Berkomentarlah dengan bijak dan bertanggung jawab. Tanggung jawab komentar adalah satu-satunya tanggung jawab pemberi komentar berdasarkan hukum ITE

Hadiah

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Lihat semua komentar (0) video yang dipilih

Jumlah personel TNI tersebut melebihi jumlah pegawai TNI. !! NU vs Muhammad, siapa yang lebih kuat?

Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Related Post