Museum Subak Tabanan Uji Coba Teknologi AR Detikcom

Museum Subak Tabanan 7 Tips From 246 Visitors
Museum Subak Tabanan 7 Tips From 246 Visitors

Tabanan – Museum Subak Tabanan sedang menguji coba penerapan teknologi augmented reality (AR) di beberapa koleksinya.

Dengan teknologi ini, pengunjung diinformasikan tentang berbagai koleksi museum setelah narator memindai kode QR atau barcode dengan ponsel 3D.

Sayangnya, teknologi ini hanya bisa dicoba dengan mengunduh aplikasi Playstore Augmented Reality Subs. Aplikasi untuk ponsel iOS belum tersedia.

Pengujian teknologi ini dimulai pada Jumat (3/6/2022) di tujuh koleksi Museum Subak.

Penerapan teknologi augmented reality ini merupakan hasil kerjasama antara Museum Subak dengan Research Group Buleleng dari Ganesh Normal University (Undiksa).

“Salah satu tren teknologi ini adalah kami ingin menawarkan pengalaman berkunjung yang imersif kepada siswa kami,” kata Ketut Agustini Subak, ketua kelompok penelitian aplikasi augmented reality museum, Sabtu (4/6/2022).

Dikatakannya, realitas teknologi saat ini sangat beragam. Teknologi augmented reality adalah salah satu yang banyak digunakan di banyak museum asing.

“Penggunaan teknologi augmented reality ini bertujuan untuk meningkatkan jumlah kunjungan ke museum, sekaligus memberikan pengalaman baru,” tambah guru ilmu komputer tersebut.

Augustin mengatakan, proses penerapan teknologi AR pada koleksi Museum Subak dimulai pada 2021.

Proses pemodelan menggunakan software 3D. Seperti halnya pembuatan konten game, lanjut Agustinus, penerapan teknologi augmented reality akan terus berkembang. Sejauh ini baru tujuh koleksi yang telah di-barcode.

“Ini baru langkah awal. Barcode untuk koleksi lain juga sedang dibuat. Termasuk aplikasi mobile berbasis iOS,” jelasnya.

Di sisi lain, Ida Ayu Nyoman Ratna Pavitrani, Kepala Museum Subak Tabanan, mengatakan pihaknya tertarik untuk menerapkan teknologi tersebut.

“Karena kami tidak ingin museum ini terkesan monoton,” ujarnya.

Menurut Ratna Pavitrani, melalui pemanfaatan teknologi augmented reality, pengunjung bisa mendapatkan pengalaman baru saat berkunjung ke museum.

See also  Perkembangan Teknologi Rukyat AlHilal

“Untuk membuat museum lebih menarik. Meski koleksi museum sudah tua, miris, tapi kami ingin menampilkannya secara modern,” ujarnya.

Dilanjutkan Ratna Pavitrani, generasi muda sangat ingin datang ke museum dan melihat setiap koleksi dengan cara yang menarik. Sepengetahuannya, teknologi AR baru telah diterapkan di Museum Bali dan Museum Neka.

“Tidak membosankan. Alat ini untuk apa? Penjelasan dan foto bisa langsung dari ponsel. Apalagi sekarang semua orang punya ponsel,” tutupnya.

Tonton video "Seru Jalan-jalan ke Taman Bunga Tabanan" [Gambas: Video 20 detik] (irb/irb)

Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Related Post